Oknum Polisi Todongkan Pistol dan Telanjangi Penjaga Sekolah
PADANG ONLINE (PADANG) - Dituduh mencuri komputer dan laptop, Penjaga SMA I Kota Sawahlunto, Ra syid (40) ditodongkan pistol, dianiaya, bahkan ditelanjangi oleh tiga oknum anggota Polres Sawahlunto, di ru mahnya di komplek sekolah tersebut, Rabu (16/12) dinihari.
Akibat tindakan tersebut pria paruh baya itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit Yarsi Bukittinggi untuk men dapat perawatan. Peristiwa ini sudah dilaporkan ke Pol res Sawahlunto.
Korban Rasyid yang dihu bungi kemarin mengungkapkan, Selasa (15/12) ia dida tangi beberapa petugas ke polisian menanyakan soal raibnya enam komputer dan infokus SMA I.
“Saya ditanya apakah sa ya memang penjaga sekolah dan memang ada laptop dan infokus yang hilang, saya jawab ya,” katanya.
Setelah ditanyai, petugas itupun meninggalkannya. Ke mudian sekitar pukul 22.00 WIB malamnya, datang lagi tiga anggota polisi ke ru mahnya di kawasan SMA 1 “ Ketika itu saya sedang me nonton TV, karena ada yang mengetuk pintu, maka dibu kakan dan menyuruh masuk mereka ke dalam rumah,” tutur Rasyid.
Karena hanya memakai singlet saja, korban pun me ngenakan bajunya. Setelah itu tiga petugas mulai me nanyainya soal hilangnya se jumlah peralatan labor sekolah itu.
Ironisnya pertanyaan itu disodorkan disertai dengan tamparan ke pipi korban. Tidak hanya itu, perut korban juga jadi sasaran tinju ok num aparat berseragam coklat itu.
Tidak berhenti di sana. Penyiksaan itu berlanjut hingga Rabu dinihari sekitar pukul 01.30 WIB. Bahkan ketika itu korban juga sempat ditelanjangi dan dito dongkan pistol ke arah kaki korban.
“Kenapa harus di kaki pak, langsung saja arahkan ke kepala, karena saya benar tidak melakukan pencurian itu pak”, kata Rasyid sat itu kepada petugas.
Usai aksi itu, ketika ok num polisi itu pun pergi. Esoknya korban melaporkan peristiwa ini ke Mapolresta setempat.
Setelah memberikan kete rangan, sekitar pukul 15.00 WIB korban pergi ke Rumah Sakit Yarsi Bukittinggi un tuk melakukan perawatan. Dan malamnya korban kembali ke Sawahlunto sekitar pukul 20.00 WIB.
Menanggapi peristiwa ini Kapolresta Sawahlunto AK BP Ano Munarto yang dihu bungi kemarin mengungkapkan, hari ini ketiga ang gotanya itu akan dipanggil dan diperiksa. “Kemarin hari libur, maka besok (hari ini-red), mereka akan kita periksa,”katanya melalui telepon genggam.
Sebelumnya Labor SMA Negeri 1 Sawahlunto dibo bol maling. Enam unit laptop dan infokus raib, Senin malam. Sekolah favorit di ‘Kota Arang’ itu diperkirakan menderita kerugian sekitar Rp80juta. (nas)
PADANG RECOVERY PLAN PASCA GEMPA TAHUN 2010 – 2012
PADANG ONLINE, Padang - Pascagempa berkekuatan 7,9 SR yang meluluhlantakkan Sumatera Barat, secara bertahap masing-masing daerah yang terkena dampak gempa mulai menyusun rencana pemulihan, termasuk Kota Padang yang merupakan salah satu kota yang terparah terkena gempa.
Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Padang, Indra Catri, saat ini pihaknya telah selesai menyusun kerangka Padang Recovery Plan atau Rencana Pemulihan Padang (RPP) pascagempa Tahun 2012 – 2012. “Rencana Pemulihan Padang (RPP) disusun berdasarkan konsep manajemen bencana yang diaplikasikan sesuai dengan karakteristik bencana dan dampaknya,” jelas Indra pada Padang Online, Selasa (20/10) kemarin. Dia menambahkan, rencana pemulihan yang disusun tersebut meliputi program rehabilitasi dan rekonstruksi sebagai lanjutan program tanggap darurat yang menyangkut seluruh aspek kehidupan sosial dan pembangunan kota.
Dikatakan Indra, gempa 30 September 2009 yang lalu telah menimbulkan dampak yang besar terhadap semua aspek kehidupan, seperti aspek fisik-lingkungan, ekonomi-keuangan, sosial-budaya, politik-pemerintahan. Oleh karena itu, lanjutnya, RPP tersebut dibuat berdasarkan data dan fakta yang dikumuplukan secara lebin rinci dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita juga menyusun rencana pemulihan ini sebagai rencana transisi sekaligus revisi terhadap RPJM Kota Padang supaya proses pembangunan dapat berjalan secara normal sesuai rencana jangka panjang,” kata Indra. Dilanjutkannya, berdasarkan rencana ini dapat pula disusun cetak biru (blue print) bagi pembangunan kota untuk berbagai aspek kehidupan sebagai pelengkap bagi Rencana Pembangunan Jangka Panjang tersebut.
Oleh karena itu, katanya lagi, dalam penerapannya, rencana pemulihan ini membutuhkan badan khusus yaitu Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Padang agar proses dapat dikendalikan dan dievaluasi sesuai tahapan rencana.
“Hal ini penting karena berguna untuk percepatan dan pemantapan proses rehabilitasi dan rekonstruksi, sehingga dalam manajemen pelaksanaannya perlu dibantuk suatu badan pelaksana dibawah komando walikota dengan melibatkan aparat daerah, tenaga ahli, di samping partisipasi dari masyarakat Kota Padang sendiri,” tambahnya.
Dijelaskan Indra, RPP yang akan diterapkan itu mengusung metodologi terpadu yang menggunakan konsep manajemen bencana (disaster management). Di samping itu, imbuhnya, juga akan menggunakan konsep Pembangunan Kota Terpadu (Integrated Urban Development), Pembangunan Berbasis Komunitas (Community Based Development).
“Pereanaan dan pelaksanaannya akan dilakukan secara simultan atau berkelanjutan sesuai dengan sifat rencana yang melibatkan tim kerja terdiri dari Pejabat Pembina, Konsultan, Manajemen, dan Tim Pakar-Praktisi,” paparnya. Dia juga menjelaskan bahwa dalam fase tanggap darurat sebenarnya berbagai upaya sudah dilakukan oleh banyak lembaga dalam perencanaan pemulihan pascabencana, dan hal itu juga akan menjadi bahan pertimbangan dalam RPP.
Gempa 7,9 SR yang terjadi 30 September lalu menimbulkan kerugian yang cukup parah di Kota padang. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana / Diskominfo Kota Padang, jumlah korban jiwa di Kota padang mencapai 383 orang, rumah rusak berat 33.597, rusak sedang 35.816, rusak berat 37.615, dan sarana prasarana mencapai 1.600 lebih.
Tully si Bebek Perkasa
PADANG ONLINE, Victoria - Seekor bebek harus menjalani pembedahan darurat setelah bertahan selama beberapa hari dengan paku 4 inch tertanam dalam tengkorak. Burung, yang disebut tully oleh dokter hewan, telah ditembak di kepalanya dengan pistol paku.
Tetapi butuh tiga hari untuk menangkap si tully guna diselamatkan dari paku yang mencuat keluar dari kedua sisi dari kepalanya. Begitu tertangkap, tully kemudian bergegas dibawa untuk operasi darurat di dokter hewan di devon meadows, Victoria, di Australia.
Setelah memberikan tully suatu anestesi, dokter hewan akhirnya mampu mengeluarkan paku yang menusuk kepala hanya 4 mm dari mata.
Nigel williamson, 43, dari australia animal rescue, adalah yang pertama melihat tully, dia berkata: "sebelum mencoba menangkapnya, aku melihat si bebek melenggak-lenggok mencari makan, berenang, dan melakukan segala sesuatu yang seharusnya dilakukan bebek, dengan paku di kepalanya".
"Si bebek sepertinya tidak peduli tentang hal itu sama sekali, tetapi dalam keadaan sehat".
Mr williamson menambahkan: "kami tidak tahu siapa yang melakukannya tapi kita melihat banyak bebek yang cedera ketika sekolah memutuskan untuk liburan. Mungkin saja anak-anak".
"Ini benar-benar sebuah tindakan kejam yang tidak masuk akal. Sulit untuk percaya bahwa ada seseorang yang ingin melakukan sesuatu seperti ini. Untungnya dia cepat pulih."
Tully menghabiskan waktu 10 hari di sebuah kursus antibiotik untuk menghentikan infeksi sebelum dia dilepaskan kembali ke habitatnya dan berkumpul bersama teman-temannya sesama bebek. (*)
Carrefour Salurkan Rp. 2,8 Miliar bagi Korban Gempa Sumbar

PADANG ONLINE, Padangpariaman – PT. Carrefour Indonesia terjun langsung ke Padang untuk menyerahkan bantuan bagi korban gempa Sumbar. Sebagai tanda belasungkawa yang mendalam atas musibah gempa yang dialami oleh para korban, Carrefour Indonesia melalui Yayasan Internasional Carrefour bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan dan Pemerintah Kota Medan memberikan bantuan sebesar 200.000 Euro atau setara dengan Rp. 2,8 miliar bagi para korban gempa Sumatra.
“Carrefour turut berduka atas musibah gempa yang dialami oleh saudara-saudara kita di wilayah Padang dan sekitarnya,” ujar ujar Presiden Direktur PT. Carrefour Indonesia Shafie Shamsuddin didampingi Communication Manager Retha A. Dotulong kepada Padang Online disela- sela penyerahan bantuan gempa oleh Carrefour pada warga yang terkena musibah gempa di Korong Bunga Tanjung Nagari Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman, Senin (12/10/2009).
Menurut dia, manajemen Carrefour sangat prihatin melihat akibat gempa yang melanda Sumatera Barat akhir September 2009 itu, sehingga Carrefour yang semula hanya akan membantu korban gempa sebanyak 100.000,- Euro (setara Rp1,4 milyar) ditingkatkan menjadi 200.000,- Euro (Rp2,8 milyar).
“Kami ingin berpartisipasi untuk sedikit membantu meringankan penderitaan saudara-saudara kita di wilayah ini. Bantuan kami salurkan melalui dua gerai kami yang terdekat di wilayah Sumatra yaitu di Medan dan Palembang. Adapun bantuan yang diberikan adalah yang paling mereka butuhkan pada saat ini antara lain makanan, peralatan kebersihan, peralatan pertukangan, pakaian, terpal, obat-obatan, dan lain-lain,” katanya.
Dalam hal ini Carrefour bekerjasama dengan Mercy Relief, sebuah organisasi yang bergerak di bidang penanggulangan bencana, dan saat ini membuka posko di wilayah Padang Pariaman. ”Bantuan dari kedua gerai tersebut akan kami serahkan ke Mercy Relief dan selanjutnya mereka akan mendistribusikan bantuan tersebut langsung ke para korban,” lanjut Shafie.
Pada kesempatan itu Shafie juga sangat prihatin melihat kerusakan rumah rumah sekolah dan fasilitas umum yang ada. "Kita juga merencanakan memberikan bantuan untuk perbaikan rumah rumah sekolah yang rusak", ujar Shafie.
Karyawan Carrefour baik di Palembang maupun Medan terlibat langsung dalam seluruh proses bantuan mulai dari persiapan, pengepakan, pengawalan maupun pengiriman barang.
Seperti disampaikan Dian Rahmawati, Corporate Social Responsibilty (CSR) Manager PT. Carrefour Indonesia, pihaknya melibatkan karyawan Carrefour karena ingin melihat secara langsung keadaan di lapangan.
"Bantuan dari gerai Medan telah berangkat sejak hari Kamis (8/10) lalu yang terdiri dari satu truk besar dan satu truk lainnya, disusul oleh bantuan dari gerai Palembang pada hari Jumat (9/10) yang terdiri dari iring-iringan 15 truk," katanya. (ded)
Sudahilah Kabar Pertakut Itu
Belum reda trauma akibat gempa berkekuatan dahsyat 7,9 SR yang meluluhlantakkan Ranah Minang, warga Sumbar kembali didera kabar pertakut yang justru ditiupkan oleh orang-orang yang seharusnya menenangkan suasana setelah bencana datang.
Kabar pertakut itu, berupa isu akan adanya gempa besar dalam waktu dekat yang tak kalah besarnya daripada gempa 30 September lalu. Konon kabarnya, gempa itu kekuatannya berada pada kisaran di atas 8 SR – 8,9 SR. Gempa yang 7,9 SR saja sudah hancur negeri ini, apalagi gempa seperti yang dikatakan dalam isu itu.
Lintang pukang orang mendengar isu ini. Di kedai-kedai kopi hingga di perkantoran, isu ini menjadi topik pembicaraan hangat. Sampai-sampai, banyak pula yang sampai stress mendengar isu ini. Duduk tegak kemari susah memikirkan gempa besar yang akan datang. Saat di luar, terpikir anak istri di rumah. Saat tidur takut gempa itu akan datang. Boro-boro upaya pemulihan setelah gempa bisa menimbulkan sedikit ketenangan, yang ada malah rasa takut makin menjalar.
Tidak tega melihat keresahan yang makin meluas di tengah-tengah masyarakat, para ‘pakar gempa’ di negeri ini mulai angkat bicara. Mulai dari BMKG hingga ahli geologi. BMKG menyebut belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi.
Penjelasan lebih lengkap disampaikan ahli geologi dari Universitas Andalas, Badrul Mustafa Kemal. Dia mengatakan secara logika mustahil akan ada gempa lebih besar dari gempa 30 September itu terjadi dalam waktu dekat. Hal ini dikarenakan gempa yang lebih dahsyat terjadi di lokasi yang sama dan dalam periode yang berdekatan belum pernah terjadi di belahan dunia ini. Contoh nyata adalah pada gempa di Aceh dan Nias, setelah gempa yang dahsyat di daerah tersebut, tak lagi ada gempa lebih besar terjadi di sana.
Sementara itu, sebagai makhluk yang beragama kita juga hendaknya tidak terburu-buru mempercayai isu meresahkan yang beredar luas tersebut. Menurut salah seorang ulama Sumbar, Buya Mas’oed Abidin, sesuai Al Qur’an kita diperintahkan untuk meneliti kebenaran sebuah berita (isu). Jangan sampai berita yang belum jelas kebenarannya itu kemudian disebarkan pula ke orang lain. Akhirnya menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.
Rasanya, tanggapan dari dua ahli yang berkompeten pada bidangnya masing-masing itu bisa cukup melegakan kita. Buat para pakar, sudahilah kabar-kabar pertakut yang meresahkan itu, apalagi di tengah kekalutan ini.
Tinggal sebenarnya bagaimana kita menyikapi isu meresahkan itu. Kita telan mentah-mentah begitu saja atau menggunakan akal pikiran dan logika yang dikarunia Allah pada kita. Memang, kita juga harus menyadari kuasa Allah, jika dia berkehendak maka segala sesuatunya bisa terjadi. Namun, kita juga harus sadar bahwa kita diberikan akal oleh-Nya untuk menggali ilmu-ilmu yang ada di dunia ini.
Meskipun demikian, dari isu yang beredar itu kita bisa melihat sisi yang lain, yakni sisi positifnya. Isu itu, secara tidak langsung juga memberikan kita pelajaran untuk bersikap waspada. Tentu hal ini harus kita iringi dengan meningkatkan pengetahuan terhadap bencana, dalam hal ini gempa. Bahasa ilmiahnya mitigasi bencana. ‘bersahabat’ dengan bencana. Sehingga, ketika bencana itu datang, kita telah memiliki bekal untuk menghadapinya.
Tidak ada salahnya kita meniru bangsa Jepang. Negeri matahri terbit itu merupakan daerah yang juga rawan terhadap gempa. Namun masyarakatnya telah dibekali dengan pengetahuan tentang gempa. Sehingga ketika gempa terjadi, masyarakat sana sudah tahu apa yang mesti dilakukan untuk menyelamatkan diri.
Untuk itu, jelas tanggung jawab pemerintahlah untuk menumbuhkan kesadaran di tengah-tengah masyarakat bagaimana caranya ‘bersahabat’ dengan bencana itu. Tentu, diiringi pula dengan kesadaran kita sebagai warga masyarakat untuk mau membekali diri dengan pengetahuan tentang bencana tersebut. (padang-online)
Pakar: Jangan Percaya Isu 'Gempa Besar'
PADANG ONLINE, padang - Isu akan terjadinya gempa besar berkekuatan di atas 8,8 SR di Sumatra dan utamanya Kota Padang yang dilontarkan beberapa ahli/pakar gempa, pada kenyataannya telah memicu stres masyarakat dan dikhawatirkan akan berdampak lebih luas pada aktivitas perekonomian masyarakat dan daerah.
Pakar gempa dari Universitas Andalas, Badrul Mustapa Kemal yang dikonfirmasi padang-online.com, Minggu (11/10) kemarin mengenai kebenaran isu tersebut menjawab bahwa secara logika mustahil akan ada gempa yang lebih dahsyat terjadi di lokasi yang sama dan dalam periode yang berdekatan.
Lagipula menurut Badrul, pernyataan yang dikeluarkan beberapa ahli gempa tersebut merupakan pendapat satu atau dua pakar secara pribadi, bukan hasil keputusan sidang bersama seluruh pakar gempa, sehingga tidak mutlak kebenarannya bahkan bisa juga salah besar.
“Setelah terjadinya gempa besar yang membuat kerusakan dan kehancuran seperti gempa 30 September lalu di Sumatera Barat, maka mustahil rasanya menurut saya akan kembali terjadi gempa yang lebih besar dalam waktu dekat dan di lokasi yang sama pula,” terang Badrul.
Dikatakan Badrul, di belahan bumi ini saja hal itu belum pernah terjadi, karenanya secara logika juga sangat mustahil jika hal tersebut terjadi kembali. Contoh nyata adalah pada gempa di Aceh dan Nias, setelah gempa yang maha dahsyat didaerah tersebut, tak lagi ada gempa lebih besar terjadi di sana.
“Gempa sebesar yang terjadi di Sumbar pada 30 September lalu, tidak akan sering terjadi lagi di dunia, apalagi pada satu tempat dan mustahil akan terjadi berkali-kali juga pada satu tempat. Karena terjadinya gempa berkekuatan besar, membutuhkan waktu lama untuk menghimpun energi yang cukup besar lagi,” katanya.
Apalagi menurut beberapa sumber dari luar negeri, gempa yang terjadi di Sumbar akhir September lalu itu kekuatannya hingga 8,2 SR. Berarti akan sangat kecil lagi kemungkinan akan terjadi berkekuatan lebih hebat dari itu dalam jangka waktu yang dekat dan dilokasi yang sama.
“Para ahli gempa boleh berpendapat, dari ITB atau dari manapun universitas yang canggih di dunia ini. Tapi itu kan pendapat secara pribadi karena memang tak ada larangan bagi mereka untuk berbicara. Namun pendapat mereka bisa benar dan bisa juga salah. Kalau hal tersebut hasil keputusan bersama ahli gempa, baru lain ceritanya,” tutur dia lagi.
Dirinya tidak menampik, komentar peramal yang menyebutkan akan terjadi gempa besar membuat masyarakat menjadi stress. Aktivitas perekonomian menjadi stagnan karena masyarakat takut ke luar rumah. Kepala keluarga malas bekerja dan lebih berkeinginan menjaga keluarganya di rumah.
Tanggapan tersebut dikemukakan Badrul sehubungan dengan adanya televisi yang menayangkan tanggapan peramal atau isu bahwa Sumatra akan diguncang gempa besar pada 16 Oktober 2009 atau pada 2 Februari 2010 dan Oktober 2010.
Menurut dia, semua pakar gempa di dunia tidak pernah menyebutkan gempa dalam bentuk ramalan, tetapi dihitung melalui minggu, bulan dan tahun. Orang bisa membuat periodesasi berdasarkan perulangan gempa pada satu tempat dan kemudian baru menyatakan siklus tersebut.
“Ramalan tentang gempa tidak ilmiah dan itu tidak bisa dipercaya. Salah atau benarnya isu tentang akan terjadinya gempa besar perlu diuji. Kalau kemudian isunya meluas, tentu itu peran media juga karenanya media perlu berhati-hati juga dalam menulis pemberitaan, jangan sampai berdampak negatif luas di masyarakat,” katanya.
Oleh itu dia mengharapkan pada masyarakat agar tidak perlu cemas berlebihan. “Kita berpikir positif sajalah, mungkin maksudnya pakar gempa tersebut agar kita lebih waspada. Namun yang jelas, masyarakat jangan kelewat cemas, karena bagaimanapun juga itu adalah rahasia tuhan, kita hanya perlu waspada,” tutur dia lagi.
Sementara itu, Penasehat MUI Sumbar Buya H. Mas’oed Abidin menanggapi isu gempa besar yang meresahkan itu mengatakan masyarakat jangan menerima begitu saja setiap isu yang beredar, apalagi isu yang menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat luas.
Dijelaskannya, dalam Al Qur’an sebenarnya sudah diajarkan bagaimana menyikapi setiap isu yang beredar. “Dalam Surat Hujurat ayat 6 dijelaskan bahwa kita diperintahkan untuk meneliti kebenaran setiap berita (isu) yang datang pada kita. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya musibah pada orang lain dan juga hal-hal yang tidak diinginkan tanpa kita mengetahui keadaan yang sebenarnya,” papar Buya Mas’oed.
Oleh karena itu, lanjutnya, terhadap isu-isu yang beredar hendaknya diperiksa dan diteliti dulu kebenarannya, jangan diterima begitu saja. “Apalagi isu-isu yang justru bisa menimbulkan celaka dan meresahkan masyarakat luas, seperti isu gempa besar ini. Kita bisa memeriksa kebenaran isu itu dengan bertanya pada ahlinya. Di Sumbar kan banyak para pakar dan ahli yang bisa kita tanyai tentang hal ini,” katanya lagi.
Buya Mas’oed juga menambahkan bahwa yang sebenarnya perlu dilakukan saat ini adalah mempersiapkan diri menghadapi gempa atau latihan dan simulasi gempa. “Gempa itu tidak pernah membawa maut. Maut bisa datang kapan saja. Selain itu, dalam hal gempa, ketidakhati-hatian kitalah yang sangat diperlukan. Banyak korban jiwa karena konstruksi bangunan yang tidak kokoh dan kondisi tanah yang tidak benar. Kokoh bangunan tapi dibangun di atas tanah yang labil tetap akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, begitu pula sebaliknya,” jelasnya.
Oleh karena itu, dia mengimbau kepada orang-orang yang membuat isu agar menghentikan perbuatan itu, dan kepada masyarakat luas diminta untuk tidak menyebarluaskan lagi isu itu karena justru akan membuat suasana menjadi runyam.
Nuklir Penyebab Gempa Hanya Khayalan Penggemar Teori Konspirasi
Pada tanggal 26 April 1986, satu unit reaktor nuklir pada pusat reaktor nuklir di Chernobyl, Uni Soviet (sekarang Russia) meledak dan tercatat sebagai kecelakaan nuklir terburuk di dunia. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO), radiasi yang ditimbulkan akibat ledakan reaktor nuklir itu setara dengan 200 kali radiasi bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Bahkan, hampir sekitar 70 persen daratan Eropa terkontaminasi oleh awan beracun dari potongan inti ledakan nuklir tersebut. Sementara, kelompok pecinta lingkungan Greenpeace menyebutkan, 160 ribu kilometer persegi tanah terkontaminasi bahan radioaktif.
Dampak yang ditimbulkan akibat radiasi ledakan nuklir itu cukup mengerikan. Setidaknya lima juta orang di sekitar Chernobyl terkena radiasi. Tidak ada angka pasti mengenai korban tewas akibat bencana Chernobyl. Namun WHO memperkirakan sekitar 9.000 orang meninggal dunia akibat terkena radiasi. Sedangkan kelompok Greenpeace memperkirakan jumlah korban tewas yang sebenarnya mencapai 93.000 orang. Seorang dokter spesialis penyakit akibat radiasi nuklir, Natalya Preobrashenskaya secara tegas menyebutkan jutaan anak-anak yang lahir di masa mendatang juga akan terkena cemaran radiasi Chernobyl, sesuai prilaku radioaktif yang dipakai sebagai bahan bakar PLTN, hingga jutaan tahun ke depan. Oleh karena itulah, Chernobul hingga sekarang menjadi kawasan mati yang tak bisa ditempati lagi. Hal ini memastikan, bahwa ledakan nuklir memberikan efek yang tak terperikan bagi makhluk hidup.
Pada tanggal 26 Desember 2004, tragedi dahsyat terjadi di Indonesia, tepatnya di Aceh. Sebuah gempa berkekuatan 8,9 SR mengguncang bumi Serambi Mekkah. Tidak hanya itu, sesaat kemudian tsunami besar menerpa daratan dan menyapu bersih semua yang ada di daratan. Tercatat, korban tewas akibat tragedi ini mendekati angka 300 ribu jiwa. Gempa itu sendiri merupakan yang terbesar setelah gempa berkekuatan 9,2 SR di Prince William, Alaska tahun 1964 dan menduduki gempa terbesar nomor empat di abad ini. Konon, gempa itu menyebabkan Pulau Sumatera bergeser sejauh 100 kaki dan mengganggu pergerakan rotasi bumi selama beberapa detik.
Teori Konspirasi
Besarnya dampak yang timbul akibat bencana ini, tak pelak memunculkan berbagai pendapat yang cenderung mengarah kepada teori konspirasi. Disebutkan, gempa bumi yang disusul tsunami itu disebabkan oleh ledakan nuklir yang dilakukan oleh AS. Banyak alasan yang dikemukan kenapa teori ledakan nuklir muncul, di antaranya adalah tidak adanya korban jiwa di pangkalan angkatan laut AS di DiegoGarcia yang berada di Samudra Hindia.
Bagaimanapun, teori ini patut dipertanyakan kebenarannya. Hal ini jika merujuk pada kejadian ledakan nuklir di Chernobyl tahun 1968 seperti yang disebutkan pada awal tulisan ini. Jika benar gempa di Aceh disebabkan oleh nuklir, maka sercara logika saja pasti akan ada efek radiasi yang ditimbulkan. Tidak saja sesaat setelah gempa, tapi tentu hingga sekarang. Aceh akan menjadi kawasan yang tidak bisa ditempati lagi akibat radisi. Apalagi, hanya tiga hari setelah kejadian, ribuan relawan dari luar negeri, termasuk dari AS berdatangan ke Aceh memberikan bantuan. Jika memang ada radiasi nuklir, tentu mereka tidak akan datang begitu cepatnya ke Aceh. Para korban yang selamat pun tidak ditemui adanya tanda-tanda terkena radiasi.
Hal ini pun sebenarnya pernah disanggah oleh penggemar teori konspirasi. Mereka menyebutkan bahwa tidak adanya efek radiasi dikarenakan ledakan nuklir itu dilakukan di bawah laut. Jika demikian, kenapa ekologi bawah laut di Aceh, dan secara umum di pesisir Sumatera tetap ada? Tidak ada laporan banyaknya ikan-ikan mati dan terdampar di pantai-pantai. Selain itu, satu hal yang pasti, ledakan nuklir, baik di bawah laut maupun di daratan selalu disertai dengan kemunculan awan cendawan raksasa, dan hal itu tidak dijumpai dalam kejadian di Aceh!
Tidak hanya di Aceh, gempa di Jogja pada tahun 2006 pun banyak yang mengklaim disebabkan oleh nuklir. Apalagi, beberapa saat kemudian muncul foto-foto yang memperlihatkan adanya bola api (fireball) di langit Jogja. Kemudian ditambah lagi kesaksian nelayan Australia yang juga menyaksikan bola api itu. Lengkaplah sudah cerita seru bagi para penggemar teori konspirasi!
Mari sejenak kita tidak bicara logika, namun berdasarkan fakta. Pertanyaannya, benarkah ledakan nuklir dapat menyebabkan terjadinya gempa? Setelah meramban-ramban internet dan mengacu pada beberapa situs yang bisa dipertanggungjawabkan tingkat keilmiahannya, maka didapatkan beberapa penjelasan mengenai keterkaitan antara ledakan nuklir dan gempa.
Gempa Aceh
Menurut pakar teknologi nuklir Indonesia, Ma'rufin Sudibyo, gempa Aceh, yang secara ilmiah disebut disebut gempa megathrust Sumatra-Andaman 2004, terjadi akibat patahnya dua segmen bersebelahan dalam zona subduksi Sumatra, yakni segmen Andaman dan Simeulue, yang panjangnya mencapai 1.500 km. Akibat rumitnya tektonik di kawasan ini dimana kedua segmen menjadi bagian dari mikrolempeng Burma, membuat kedua segmen tersubduksi dengan lempeng India dengan sifat subduksi sangat miring, dimana vektor lempeng India yang bergerak ke utara hampir sejajar terhadap zona subduksinya.
Oleh interaksi macam ini, sebagian kecil vektor lempeng India memang bisa dimanifestasikan ke sistem patahan besar Andaman Barat, namun sebagian besar lainnya ditahan oleh segmen Andaman dan Simeulue. Inilah yang terus menerus menumpuk dari waktu ke waktu hingga akhirnya melampaui ambang batas daya tahan batuan setempat dan meletupkan megathrust dengan magnitude Mw 9,2 atau setara dengan 8,9 SR. Penumpukan tekanan macam ini bukan hanya monopoli kedua segmen tadi, namun juga dialami hampir seluruh zona subduksi di Indonesia, misalnya segmen Mentawai (panjang 900 km) atau bahkan juga segmen subduksi Jawa bagian tengah (panjang 300 km) di lepas pantai selatan Pulau Jawa.
Dengan luas segmen Simeulue dan Andaman yang terpatahkan sebesar 300.000 km persegi dan total slip 10 m (di beberapa tempat mencapai 20 meter), maka gempa ini membutuhkan energi sebesar 95 juta megaton TNT dan melepaskan energi sebesar 950 megaton TNT atau 47.500 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima. (Ma'rufin Sudibyo, 2006). Seandainya seluruh hululedak nuklir yang ada di Bumi ini dikumpulkan dan diledakkan bersama-sama, energinya paling maksimal 'hanya' 20.000 megaton TNT.
Di tata surya ini, energi sebesar 95 juta megaton TNT tersebut hanya bisa disebabkan oleh satu sumber yakni tumbukan asteroid/komet. Mengapa butuh energi teramat besar? karena efisiensi pengubahan energi ledakan menjadi energi gempa itu sangat rendah, hanya 0,001 % (Melosh. 1989. Impact Cratering: A Geologic Process).
Gempa Jogja
Bagaimana dengan gempa Jogja? Gempa Jogja yang berkekuatan 5,9 skala Richter membutuhkan ledakan eenergi nuklir sebesar 107.000 kiloton atau 107 megaton. Sebagai pembanding, lagi-lagi kita gunakan ledakan bom Hiroshima. Bom Hiroshima melepaskan energi 20 kiloton saja atau 5.300 kali lebih lemah.
Ujicoba senjata nuklir ledakan terdahsyat dalam sejarah adalah sebesar 50 megaton yang dilakukan oleh Uni Sovyet ketika meledakkan 'Tsar Bomb' di atas Pulau Novaya Zemyla pada tanggal 30 Oktober 1961. Energi yang dihasilkan dari ujicoba ini hanya setengah dari energi yang ditimbulkan oleh gempa Jogja. Meski secara teori energi 100-150 megaton bisa saja diciptakan, namun faktanya sangat sulit untuk mencapai tingkatan energi tersebut mengingat efisiensi reaksi fissi dan fusi cukup rendah. Sebagai gambaran, bom Hiroshima memiliki efisiensi fissi ‘hanya’ 1,4 %, sementara Bom Nagasaki sedikit lebih tinggi (17 %).
Oleh karena itu, mustahil rasanya jika gempa Jogja disebabkan oleh ledakan nuklir. Lagi, penganut teori konspirasi berkilah bahwa gempa Jogja bisa saja ditimbulkan akibat ledakan nuklir berantai secara simultan. Namun, hal itu juga terlalu di luar logika karena adanya kesulitan teknis lainnya berupa penanganan sekian banyak hululedak agar bisa terdetonasi secara simultan, mengingat prosedur peledakan senjata nuklir amatlah rumit.
Sebagai contoh, jika gempa Jogja berasal dari hululedak B83 atau B83-1 Bomb (hululedak terdahsyat dalam inventori US Air Force, (Sublette, 1998) yang energi maksimumnya 1,2 megaton, maka dibutuhkan sedikitnya 89 hululedak nuklir sejenis. Bisakah kita membayangkan kesulitan yang muncul dalam menangani hululedak sebanyak ini secara bersama-sama? (Ma'rufin Sudibyo, 2006).
Uji coba ledakan nuklir yang lebih lemah juga dilakukan di bawah Pulau Amitchika di Kepulauan Aleut, yang secara geologis berada pada kondisi fully locked dan menerima tekanan berlebih pasca patahnya segmen di sebelahnya dalam gempa megathrust Good Friday/Alaska 1964 (9,2 SR). Ledakan ini memang menghasilkan guncangan yang setara dengan gempa berkekuatan 6,8 skala Richter, namun sama sekali tidak menyebabkan peningkatan frekuensi kegempaan setempat, apalagi memicu terjadinya gempa yang lebih besar.
Bagaimana dengan bola api di laut yang muncul ketika terjadi gempa di Jogja? Foto-foto yang konon kabarnya dijepret oleh 'nelayan Australia' itu ternyata sama persis dengan apa yang dimuat dalam buku Chuck Hansen yang berjudul The Swords of Armageddon. Menariknya, buku itu terbit pada tahun 1972. Ledakan nuklir dalam buku itu merujuk pada ujicoba nuklir di Gurun Nevada.
Pertanyaan mendasar dalam tulisan ini, yaitu apakah ledakan nuklir bisa memicu gempa sudah dari dulu dikaji oleh para pakar, terutama dari kalangan militer sejak akhir Perang Dunia II. Cikal bakal CIA yang bernama OSS pernah mengajukan usul kepada Presiden Trumman agar memerintahkan Jendral Leslie R Grooves untuk meledakkkan saja bom Little Boy/Fat Man di Ando through alias palung laut Jepang, bukannya tepat di Kota Hiroshima dan Nagasaki. Sejumlah ujicoba ledakan nuklir bawah tanah dalam yang berlangsung kurun waktu 1946 – 1963 kemudian membuktikan bahwa usulan OSS tersebut sama sekali tidak sesuai dengan harapan para petinggi AS itu.
Namun, pada akhirnya, wacana yang belum terbukti secara ilmiah inilah yang kemudian dijadikan oleh Joe Vialls untuk menunjang teori konspirasinya yang kemudian berkembang secara luas di tengah-tengah masyarakat tentang ledakan nuklir menjadi penyebab gempa.
Kegusaran terhadap AS
Kita memang gusar dengan AS mengingat berbagai kebijakannya yang seolah-olah hendak menguasai dunia. Keputusan AS yang menyerang Irak nyatanya tak lepas dari kepentingan menguasai minyak karena Irak sama sekali tidak memiliki fasilitas nuklir seperti yang digembar-gemborkan AS. Bahkan akhirnya terbukti laporan CIA mengenai fasilitas nuklir Irak, keterlibatan Irak dengan Al Qaeda, dan tragedi 11 September hanyalah satu kebohongan demi 'mendapat restu' masyarakat AS untuk menyerang Irak. Begitu juga dengan kebijakan-kebijakan AS lainnya yang kontroversi dan selalu memancing reaksi masyarakat dunia, terutama dari negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia.
Namun, hendaknya kita harus tetap menggunakan akal pikiran yang jernih dalam menilai berbagai persoalan. Jangan terlalu beranggapan bahwa AS itu negara super power yang bisa berbuat apa saja di atas dunia ini, sehingga membuat kita, negara yang berpotensi menjadi negara terbesar di dunia ini, menjadi minder.
Ada baiknya kita mengingat berbagai kekonyolan yang juga pernah dilakukan oleh negara adidaya tersebut. Misalnya saja, AS bahkan harus tahu dari televisi untuk mengetahui bahwa tembok Berlin sudah runtuh, atau kegagalan NASA gagal melakukan penghitungan sistem British ke dalam sistem metrik sehingga satelit Mars Global Surveyor mereka 'hilang' pada 2006.
Pemerintah Malaysia Bantu Korban Gempa Sumbar USD 1 Juta

PADANG ONLINE, Padang - Menteri Pertahanan Malaysia Dato Seri Ahmad Sahid Hamidi menyatakan, rakyat Malaysia merasa sangat prihatin dan menyatakan ikut berduka yang sedalam-dalamnya atas musibah gempa yang menimpa Sumbar, sehingga menyebabkan puluhan ribu bangunan hancur dan menewaskan hampir seribuan orang.
“Ibaratnya, dicubit paha kiri, paha kanan ikut pula merasakannya. Jadi begitulah, apa yang dirasakan rakyat Sumbar saat ini, terasa bagi kami rakyat Malaysia,” ujar Dato Seri Ahmad Sahid Hamidi saat menyerahkan secara simbolis bantuan untuk korban gempa Sumbar yang diterima Gubernur Gamawan Fauzi, di Posko Satkorlak Jalan Sudirman Padang, Minggu (11/10/2009).
Bantuan yang diberikan pemerintah Malaysia tersebut, ujar menhan, berjumlah USD 1 Juta, yang dimaksudkan untuk membantu pembangunan kembali rumah ibadah dan sekolah. Selain bantuan dari pemerintah Malaysia, juga ada bantuan dari rakyat Malaysia yang saat ini terus digalang, dan diperkirakan nantinya dapat mencapai RM 10 Juta.
“Kenapa kami lebih memfokuskan membantu rumah ibadah dan sekolah, karena itu adalah untuk kepentingan umum. Anak-anak harus cepat sekolah, dan rakyat bisa pula beribadah dengan tenang,” ujar Menteri Pertahanan Malaysia yang juga alumni ESQ (Emotional Spiritual Quotient) itu menjawab pertanyaan wartawan.
Menurut Ahmad Sahid, begitu mendengar ada bencana gempa yang meluluhlantakkan sebagian negeri di Sumbar, pemerintah Malaysia langsung mengirimkan relawan medis dan tim SAR. Dia menyatakan sudah mengirim 15 tim medis dan 70 personil tim SAR dari Malaysia.
“Kami akan kirimkan tim lagi untuk membantu, dan akan tetap mengirim tenaga bila diminta lagi,” katanya prihatin.
Menjawab pertanyaan wartawan dari Indonesia, apakah warga Malaysia akan mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke Sumbar karena rawan gempa, Menteri Pertahanan Malaysia yang juga membawa pejabat terkait dan puluhan wartawan media elektronik dan cetak itu dengan tegas menyatakan hal tersebut tak akan berpengaruh terhadap rakyat Malaysia yang memang sudah berniat untuk berkunjung ke Sumbar, apalagi banyak warga Malaysia yang tanah leluhurnya berasal dari Sumatra Barat, apalagi soal meninggal adalah merupakan rahasia Allah SWT.
“Saya sendiri tak takut untuk datang ke Sumbar, apalagi Sumbar merupakan tanah leluhur saya,” katanya.
Sementara Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi dalam kesempatan itu memaparkan dengan rinci kondisi Sumbar pasca gempa 7,9 SR yang melanda daerahnya. Dalam kesempatan itu, gubernur yang juga didampingi Walikota Padang Fauzi Bahar menyatakan terima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah Malaysia terhadap Sumbar.
“Atas nama rakyat Sumbar, saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan perhatian yang diberikan pemerintah Malaysia,” ujar gubernur.
Selamat dari ‘Lidah Maut’
PADANG ONLINE, Padangpariaman - Hirun (53), pria paruh baya, selamat dari jilatan lidah maut yang terjadi Rabu (30/9) sore, berselang hitungan detik saat gempa berkekuatan 7,6 SR mengguncang pesisir pantai barat Sumbar.
"Awak (saya) tak mungkin selamat dari lidah tanah longsor yang begitu deras ke arah bibir sungai," tutur Hirun, salah satu warga Cumanak yang selamat dari timbunan tanah longsor. Ajal merupakan rahasia Allah SWT yang tak bisa diketahui manusia kapan saatnya tiba, kenyataan ini dibuktikan terhadap Hirun.
"Lidah tanah longsor yang bercampur pohon kayu itu hanya berjarak sekitar dua meter jaraknya saat saya sedang lari pontang-panting menuju jembatan gantung, tapi ajal belum saatnya tiba, akhirnya masih selamat," tutur Hirun yang tengah melihat rumahnya di tengah sawah di Dusun Cumanak tertimbun tanah longsor.
Ayah satu anak itu menceritakan, dirinya bisa selamat dari jilatan lidah tanah itu karena ada sebatang potoh kelapa yang menghalangnya. Saat itulah Hirun bisa menuju fondasi jembatan gantung yang berjarak sekitar 50 meter dari sawahnya. Pegangan tangan pertama di fondasi beton jembatan gantung sempat terlepas, tapi kembali bisa terpegang sebagian sehingga bisa naik cepat ke atas jembatan dan langsung berlari.
Namun, di pertengahan jembatan yang menghubungkan perkampungan Cumanak dengan Lubuk Laweh dan Pulau Koto, konstruksi bangunan jembatan nyaris ambruk. "Jembatan gantung yang panjang sekitar 80 meter itu hanya miring saja sehingga masih bisa dilewati hingga ke arah dua kampung di sebelah Cumanak," katanya. Jadi, setelah sampai di seberang Hirun berdiri di tengah sawah masyarakat Pulau Koto sampai guncangan gempa berakhir.
Dedek Putra (10), anak semata wayang Hirun, ikut tewas. Hirun menuturkan, sekitar pukul 15.00 Dedek datang ke tengah sawah (tempat Hirun bekerja), meminta uang Rp 4.000.
"Lalu ditanya untuk apa uang sebanyak itu buat Dedek? Kok banyak sekali, nanti tak ada untuk belanja berangkat sekolah besok (Kamis). 'Saya tak akan minta uang lagi besok (1/9) sama Abak (ayah), kasihlah sekali ini bah"," kata Hirun menirukan perkataan anaknya yang duduk di kelas tiga SD 60 Padang Pariaman itu.
Setelah mendapat uang dari Hirun, Dedek lalu pergi ke warung yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah, langsung menonton televisi di rumah warga. "Saat gempa terjadi disertai tanah longsor itu, anak saya termasuk salah satu korban yang tertimbun," ungkap Hirun dengan wajah kosong menatap ke hamparan tanah kuning yang menimbun tiga berkampung penduduk itu.
Hirun dengan bertongkat perlahan menelusuri hamparan tanah longsor untuk mencari jasad putra satu-satunya. Istrinya, En, ikut mencari jasad buah hati mereka. "Saya tak ada firasat sehari atau sepekan sebelum terjadinya bencana gempa disertai longsor itu. Hanya saja Rabu pagi badan terasa lelah saja sehingga enggan turun ke sawah," tutur Hirun.
Tapi, hidup di dusun yang keseharian mata pencarian mengandalkan penghasilan dari hasil panen padi sawah membuatnya tidak bisa tidak harus turun mempersiapkan masa tanam.
Kuburan Massal di Pariaman Belum Ada Keputusan
PADANG ONLINE, Padangpariaman - Pemerintah masih mempertimbangkan penetapan kuburan massal bagi korban gempa yang terimbun tanah longsor akibat gempa 7,6 SR di Sumatra Barat (Sumbar). "Kita belum memutuskan penetapan kuburan massal, namun hal itu memungkinkan dilakukan mengingat kondisi di lapangan," kata Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi di Padang, Senin.
Kuburan massal dipertimbangkan ditetapkan pada lokasi terimbunnya tiga dusun dengan sekitar 400 warga yang ikut tertimbun di Tandiket dn Malalak. Tiga dusun itu rata dengan tanah dan yang tertinggal hanya hamparan tanah merah yang dibawahnya terdapat puluhan rumah tertimbun dengan ratusan warga. Melihat kondisi di lapangan yang menyulitkan untuk penggalian, dan daerah-daerah itu terisolir memunculkan pertimbangan untuk ditetapkan sebagai kuburan massal.
“Penetapan kuburan massal memungkinkan dilakukan, namun jika pihak keluarga tidak rela, maka pencarian tetap dilakukan sesuai standar SAR selama 14 hari,” kata Gamawan.
Hingga Senin siang jumlah korban yang telah ditemukan sebanyak 608 orang, ratusan lainnya masih hilang dan masih terus dicari tim SAR gabungan dalam dan luar negeri.







