Tari Kontemporer Indonesia

| October 27, 2011 | 0 Comments

Tari Minang Tari Kontemporer Indonesia

Tari Kontemporer Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Lima penari berkostum putih dengan celana galembong, seorang di antaranya pria yang bertelanjang dada, bertemu di satu titik. Mereka memulai aksi seperti main randai, teater tradisional di Minangkabau. Dengan gerak pencak silatnya yang cekatan, mereka membuktikan bahwa masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat sangat menguasai seni bela diri asli Indonesia yang diduga lahir dari Sumatera Barat itu.

Demikian awal gerakan Tari Syarikaik karya koreografer terkemuka, Ery Mefri, dari Nan Jombang Dance Company, Padang, saat pentas pada Minggu (14/2/2010) malam di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya, Jakarta.

Penampilan tari Minang kontemporer itu dipentaskan Yayasan Kelola, Jakarta, di hadapan para tamu yang terdiri dari kalangan produser, direktur festival, dan presenter dari 10 negara bagian di Amerika Serikat. “Kalau mereka tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh, mungkin ada peluang tari Minang kontemporer pentas di Amerika Serikat,” kata Ery Mefri.

Ery Mefri merupakan salah seorang koreografer terkemuka Indonesia yang sudah lebih dari 25 tahun berkarya tanpa henti. Karya-karyanya selalu mendapat sambutan luas. Setelah sukses tampil di Indonesian Performing Arts Market 2009 di Solo, yang digelar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, karya lain Ery, Rantau Berbisik; Warung Nasi Padang, telah pentas di Espalanade Theater, Singapura. Kemudian, pada Maret 2010 ini mewakili Indonesia pentas di Tokyo Performing Arts Market 2010. Ery juga sudah mengantongi undangan tampil di festival tari dunia di Essen Mulhein, Berlin, Australia, dan London sampai 2011.

Pada tarian Syarikaik yang ditampilkan semalam di TIM, Ery mengkritik kondisi kekinian di Indonesia. Syarikaik di Minangkabau merupakan kelompok komunitas. Syarikaik dulunya adalah tempat menyelesaikan masyarakat secara musyawarah dan mufakat, serta menghidupkan silaturahim.

Perubahan zaman terjadi sehingga peran dan fungsi Syarikaik kini tidak seperti dulu lagi. Sekarang sudah ada intervensi, baik oleh pemerintah maupun kepentingan lain, sehingga keberadaan Syarikaik menjadi bibit sengketa. Kebersamaan mulai luntur sehingga yang dominan adalah semakin menguatnya individualistis.

“Di banyak daerah di Indonesia, kondisi seperti ini terjadi. Sudah berkumpul maka mereka bersengketa. Mestinya mereka berkumpul itu bisa menyelesaikan suatu persoalan. Bukan membuat persoalan baru,” papar Ery Mefri.

Tarian Syarikaik yang berdurasi sekitar 45 menit itu bercerita dengan sangat jelas dan tegas tentang situasi dan kondisi kekinian di Tanah Air itu meski mengambil adagium atau kearifan lokal Minangkabau, yang dikenal sebagai daerah yang budaya demokratisnya sangat kuat. Bahkan, (alm) Gus Dur ketika menjadi Presiden pernah mengatakan bahwa demokrasi lahir dari ranah Minangkabau, Sumatera Barat.

Yang menarik dari tari Syarikaik karya Ery Mefri ini adalah, Ery tidak menggunakan musik secara artifisial, tetapi musik dimainkan penari dengan suara, tepukan tangan, hentak kaki, dan tepukan galembong.

Ery Mefri mengakui, musik adalah napas dari karya tari. Akan tetapi, yang membedakan dengan koreografer lain, Ery menyalurkannya melalui penari. Setiap produksi, alat-alat musik berusaha dikurangi dan digunakan seminimal mungkin. “Karena bagi saya teriakan kesakitan tak mungkin disuarakan melalui alat musik, kecuali oleh para penari,” katanya. (Yurnaldi)

Koreografer Indonesia  | Pakaian Adat Sumatera BaratRumah Adat Sumatera Barat

Related posts:

  1. Koreografer Indonesia
  2. Rumah Adat Sumatera Barat
  3. Pakaian Adat Sumatera Barat
  4. ADIWARMAN KARIM

Tags: , , , ,

Category: Sosial dan Budaya

Leave a Reply